Sesuatu tentang Hidayah

Fake Florist

Bunga Palsu

Hidayah, petunjuk, keterangan, bayan, dengen disertai hujjah dan dalil atau argumentasi. Mungkin semua kita sudah memahami atau paling tidak mengerti dan nyambung kalau diajak berbicara mengenai masalah ini. Alkisah suatu hari selepas shalat maghrib menjelang shalat Isya di salah satu masjid di sebuah kota, dua orang ikhwan sedang berbicara serius tampaknya. Keduanya sedang menunggu waktu shalat Isya setelah menyelesaikan ritual shalat maghrib dan rangkainnya yang ternyata keduanya memilih untuk tinggal di masjid menuggu waktu shalat Isya tiba. Sebutlah keduanya sebagai ikhwan A dan ikhwan B.

Ikhwan B masih tercatat sebagai mahasiswa semester III di salah satu sekolah tinggi di kota itu memulai pembicaraan kepada ikhwan A. ” Kak…mengapa ya lembaga pendidikan yang notabene ‘arabic‘ dan berlabelkan Islam, syariat, dan ahlussunnah tapi lulusannya tidak semuanya demikian sebagaimana label lembaga pendidikannya, mengapa pula yang masuk ke sana terkesan bebas baik dari kalangan orang-orang dengan label ahlussunah maupun tidak…?”. Belum sempat ikhwan A menjawab, waktu shalat Isya pun tiba, kemudian dengan cepat ikhwan B berujar ” Maaf Kak, kalau boleh nanti saya minta waktu kakak, mau ngobrol…..”. Ikhwan A pun menyanggupi dengan anggukan kepalanya sambil berkata ” Nanti di kos aja….”, terakhir pembicaraan ditutup dengan sebuah senyuman dari ikhwan A kepada ikhwan B, sebuah senyuman dengan sinar rasa bahagia dan penuh harapan akan datangnya hidayah dan kemudahan dari Dzat yang bersemayam di atas Arsy sesuai dengan kebesaran dan kemuliananNya.

Tak terasa ritual shalat Isya selesai dikerjakan, alhamdulillah genap sudah hari ini shalat lima waktu berjamaah di masjid. Dua orang ikhwan kita ini pun bergegas pulang menuju kos setelah sebelumnya mampir ke warung nasi tak jauh dari kos masing-masing untuk membeli santapan malam. Seperti biasa, nasi, sayur, telur, dan tempe goreng dengan tepung menjadi pengganjal perut untuk malam yang cerah itu. Alhamdulillah. Seperi biasa santap malam ditemani dengan suara merdu radio am kecil dan mungil yang senantiasa memberikan banyak manfaat tanpa diminta sekalipun…alhamdulillah, nikmat Allah yang sangat besar, tak ingin rasanya setaip detik berlalu tanpa curahan manfaat radio kesayangan ini.

Tak selang berapa lama, terdengar ketukan pintu kamar pemuda A, “pasti dari pemuda B” dalam benak pemuda A, dan ternyata memang benar demikian adanya. Segera dipersilahkan masuk dan duduk di kosan pemuda A yang sangat sederhana ternyata, tak jauh beda dari kosan pemuda B, kemudian pemuda A menyuguhkan snack seadanya dan mempesilahkan pemuda B untuk menikmatinya. To the point, pemuda B langsung menanyakan pertanyaan yang sama kepada pemuda A,dan kemudian pembicaraan pun mengalir antara keduanya.

Ya Akhi, pemuda A memulai pembicaraannya…..Ketahuilah, hidayah itu ada dua macam, ada yang dinamakan Hidayatut Taufiq, dan ada yang dinamakan Hidayatul Irsyad wal Bayan. Hidayatut Taufiq secara mudahnya mungkin bisa kita definisikan sebagai kemauan untuk mengikuti, menerima, mengilmui, memahami dan mengamalkan kebenaran, hidayah ini sepenuhnya kewenangan Allah jalla dzikruhu untuk memberikannya, Dialah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Dialah Dzat yang Maha Membolak Balikkan Hati. Manusia sama sekali tidak mempunyai wilayah dalam hidayah jenis ini. Adapun kemudian hidayah jenis kedua adalah Hidayatul Irsyad wal Bayan, maksudnya adalah hidayah berupa pemberian, pembawaan keterangan, dalil, bukti, argumentasi, baik berupa Firman Allah dalam Al Qur’an maupun sabda Rosululloh dalam hadits beliau, sebagaiman seorang mendakwahkan sesuatu kepada kawannya, seperti dia mengatakan ini loh dalilnya, ini loh firman Allah, ini loh Hadits Nabi, ini loh pemahaman para sahabat dan pengamalan mereka, ini loh perkataan para ulama…kurang lebih seperti inilah yang namanya hidayatul isryad wal bayan, usaha untuk mengajak manusia mengikuti kebenaran dengan menyampaikan dalil dan hujjah. Dan hidayah jenis ini bisa dilakukan hamba, ini pulalah yang dilakukan oleh para Rasul dan Nabi dalam dakwah mereka, yang kemudian diwarisi oleh para ulama setelah mereka. Jika sudah difahami maka kewajiban kita adalah sekedar melakukan ikhtiar dan berusaha menyampaikan kebenaran, adapun hasil akhir masalah mau apa tidaknya yang didakwahi mengikuti kebenaran itu, maka kita berdoa kepada Allah semoga Allah meberinya hidayah, dan ini sepenuhnya kehendak Allah yang Maha Bijaksana, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Jadi Akhi, apa yang bisa dilakukan Dai, Ustadz, Kiai, Lembaga Islam,Ormas Islam, Ulama, atau bahkan para Rasul sekalipun, meraka sebatas memberikan hidayatul irsyad wal bayan, masalah mau apa tidaknya mad’u (yang didakwahi) menerima maka itu sama sekali tidak menjadi persoalan, dakwah mereka dikatakan telah dilaksanakan dengan benar dan sukses sepanjang telah disampaikan sesuai dengan sunnah, bukan diikuti atau tidaknya yang menjadi ukuran benar atau tidaknya sebuah dakwah. Jika dakwah diterima maka dakwah itu pasti benar, dan jika dakwah ditolak maka dakwah itu pasti salah, bukan seperti ini penilaiannya. Bahkan dalam hadits disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak, ada Nabi yang datang tanpa pengikut sama sekali, ada Nabi yang datang hanya dengan satu pengikut, dan ada pula yang datang dengan banyak pengikut. Apakah kita akan katakan kepada para Nabi dengan pengikut yang sedikit bahkan yang tidak punya pengikut bahwa dakwah mereka salah, padahal mereka adalah para Nabi yang Maksum dan mendapat wahyu dan bimbingan langsung dari Allah…? Ingatkah antum kisah nabi Nuh alaihissalam, umur beliau seribu tahunan, berdakwah siang dan malam, tapi tidaklah yang menerima dakwah beliau melainkan sedikit saja, hanya rombongan yang ikut dalam kapal beliau alaihissalam. Bagaimana pula dengan anak beliau sendiri, ada yang bilang namanya Kan’an, anak beliau yang tahu benar kondisi setiap hari beliau, yang setiap hari dekat, bertemu, dan tentunya mengetahui dakwah dan risalah yang dibawa beliau, anak beliau ini termasuk orang yang menolak dakwah beliau alaihissalam. Apakah dengan alasan ini kita katakan bahwa dakwah beliau salah…? Tentu tidak bukan. Bagaimana pula dengan Nabi Ibrahim alaihissalam Khalilurrahman ketika bapaknya menolak seruannya untuk masuk agama Tauhid, padahal hujjah, keterangan, dan dalil sudah begitu jelas…? Apakah kita juga akan mengatakan bahwa dakwah beliau adalah salah, gagal….? Tidak tentunya bukan.

Oke sekarang bagaimana pula dengan Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sayyidul anbiya’ wal mursalin, lihatlah bagaimana dengan paman-paman beliau, ambil misal Abu Thalib, yang tau persis dakwah beliau adalah haq dan benar, melindungi dan membela beliau dengan sekuat tenaga dan segenap kemampuannya, namun Allah takdirkan Abu Thalib mati dalam keadaan kekafiran, kurang dekat apa Abu Thalib, Abu Jahal dan umumnya Bangsa Arab Quraisy dengan beliau, mereka lebih mengenal beliau lebih daripada anak-anak mereka sendiri, bahkan mereka sudah memberi beliau gelar Al Amin, dan sudah ma’ruf akan ahlaq dan kejujuran beliau, mereka tau persis beliau tidak mungkin berdusta, mereka menyaksikan wahyu turun, mukjizat tampak, kurang hujjah apakah lagi yang turun kepada mereka, mereka membaca Al Qur’an yang ahli bahasa mereka pun mengakui bahwa Al Qur’an itu bukanlah buatan manusia, karena manusia tidak akan mungkin bisa membuat yang semisalnya. Namun apakah gerangan yang terjadi, justru mereka tidak beriman, mereka kafir dan bahkan memusuhi dakwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam , apakah lantas dengan ini kita katakan dakwah Nabi salah, gagal…? Tidak tentunya bukan…..?

Kemudian kembali kepada organisasi dan lembaga dakwah yang berlabel Islam dan Sunnah tadi, yang mereka lakukan hanya sebatas Ikhtiar dengan memberikan Hidayatul Irsyad wal Bayan, adapun soal mau tidaknya yang didakwahi mengikuti Dakwah tersebut, maka ini tentu berjalan sesuai dengan kehendak Allah ta’ala, karena ini adalah wilayah Hidayatut Taufiq yang bukan wilayah hamba. Soal mengapa yang diterima adalah nyampur ada yang berlabel sunnah dan ada yang tidak, maka mungkin alasannya, kalaupun memang mereka itu dari label yang dianggap tidak benar, maka diharapkan dengan masuk ke lembaga pendidikan itu mereka dapat memperoleh dalil, hujjah dan keterangan yang kemudian mereka diharapkan mau mengikutinya, sehingga setelah lulus nanti label yang ada pada mereka menjadi benar setelah sebelumnya salah. Mungkin begitu ya Akhi, mungkin juga masih banyak alasan-alasan lain yang mungkin ada di pertimbangan mereka….wallahu ’alam.
Si Pemuda B mendengarkan dengan serius penjelasan pemuda A, kemudian pembicaraan pun belanjut dengan menceritakan pengalaman pemuda A ketika masa SMA nya dulu.

Pembicaraan ini menarik hati pemuda A, karena memang si Pemuda B boleh dibilang masih bingung akan pengajian mana yang akan dia ikuti (setidaknya begitulah bahasa mudahnya yang mungkin kita semua bisa pahami), karena memang ada beberapa nama dan label dalam masalah ini. Sayang sekali sampai saat ini si Pemuda B tadi masih lebih condong kepada “pengajian” yang tidak tepat, sehingga setiap pertanyaan tentang agama kepada pemuda A, maka pemuda A tadi akan senang dan berusaha untuk menjawab dengan benar dan tepat, dengan harapan Allah memberikan Hidayatut Taufiq kepada pemuda B untuk kemudian mau mengikuti “pengajian” yang benar dan tepat, karena dalam pandangan pemuda A, pemuda B ini memiliki ghirah (semangat) tinggi dalam beragama, semangat yang biasa ada pada seorang pemuda, sangat sayang jika semangat ini berjalan tanpa ilmu dan manhaj yang benar. “Semoga Allah ta’ala berkenan memberikan hidayah kepada pemuda B” demikianlah doa dan harapan pemuda A untuk pemuda B.
Pembicaraan riangan terus mengalir antara keduanya, tanpa terasa waktu semakin larut ketika pada akhirnya waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB, dan pemuda B pun mohon ijin pamit sambil mengucapkan terima kasih kepada pemuda A atas waktu dan penjelasannya.

Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, tetapkan hati kami di atas agamaMu. Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, palingkan hati kami untuk senantiasa taat kepadaMu.

Advertisement
By keherananku Posted in Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s