Dulu saya dan mungkin ada di antara Anda yang juga sependapat dengan ungkapan di atas.Dunia dan akhirat harus seimbang, jika dunia 50% maka akhirat harus juga 50%, jika dunia harus satu jam, maka akhirat harus satu jam, jika dunia harus seribu maka arkhirat pun harus seribu. Dengan begitu “pede” nya jorgan dan ungkapan dielu-elukan, dengan penuh khusnuzhon karena memang sepintas enak dan mapan di akal saya waktu itu. Benarlah firman Alloh taala bahwa tidaklah diberikan ilmu kepada manusia melainkan dalam jumlah yang sedikit. Dan dengan yang sedikit itu kita seringkali memaksakan diri dengan sesuatu yang banyak.
Karena memang ini masuk dalam domain agama, maka tak ada artinya kalau tanpa adanya dalil, hujjah, dan bayan. Dan percaya tidak percaya keyakinan yang dihusung ini pun memiliki dalil -dengan pemahaman sendiri, dengan kondisi ilmu yang minim dan hawa yang maksim-, dalil yagg dibawa adalah doa yang sebagaimana selalu kita baca setiap hari “………robbana aatinaa fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa adzaaban naar……..” , yang kurang lebih artinya ” ……..yaa robb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan lah kami dari adzab neraka….” sisi pengambilan dalil nya -masih versi sendiri- adalah kan di doa itu disebutkan perminataan kebaikan dunia dan akhirat, sama – sama minta kebaikannya dan dengan lafadz yang sama persis, jadi kesimpulannya bahwa dunia dan akhirat harus sama 50:50.
Maka, dengan karunia yang Alloh limpahkan kini kita mulai memahami bahwa pernyataan dan pemahaman di atas tidak benar. Segia pendalilaannya seperti ini :
pertama :
Jika kita berbicara masalah firman Alloh ta’ala, maka hendaklah kita baca juga tafsirnya, bagaimana tafsir ayat / firman Alloh tersebut, dan marilah kita buka kitab tafsir seperti tafsir Al Imam Ibnu Katsir, Tafsir AL Imam Al Qurtubi, Tafsir Al Imam At Thobari, atau Tafsir Syaikh As Sa’di rahimahumulloh , tidak ada penafsiran atas firman Alloh tersebut dengan penafsiran dunia dan akhirat harus seimbang 50:50,fifty fifty, maka dari nomor satu ini saja pendalilan 50:50 sudah gugur.
kedua :
Jika kita baca lagi firman Alloh ta’ala di atas, maka memang disebutkan kebaikan dunia sekali dan kebaikan akhirat satu kali, namun di akhir lafadz disebutkan permohonan perlindungan dari adzab neraka -dan ini adalah domainnya akhirat-, jadi kesimpulannya dunia disebutkan sekali dan akhirat disebutkan dua kali, maka bagaimana bisa dunia dan akhirat 50:50 mestinya 1:2 akhirat dua kali dunia, dan tidak sama bagian dengan dunia.
ketiga :
Jika ada yang mengatakan dunia dan akhirat 50:50, maka pertama kali orang yang tidak bisa melaksanakannya adalah orang yang menagatakannya. Coba mari kita hitung, kerja satu hari mencari nafkah dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore kurang lebih 9 jam, maka seharusnya beribadah juga 9 jam entah itu sholat, membaca Al Qur ‘ an atau ibadah-ibadah yang lain, dan ini masih dari satu aktivitas duniawi yaitu bekerja, belum ditambah aktivitas-aktivitas yang lain..! Adakah diantara kita yang sanggup…? (retoris sepertinya kan…? )
Posted by Abdul Basith on March 11, 2009 at 10:50 am
Demi Alloh…
Ana lagek arep nulis dengan bahasan yang serupa, tapi masih dalam berbentuk draft..
Setelah denger rekaman kajiannya Ust. Jazuli di radio Rodja…
Lha kok wes di tulis dhisik…