Hampir selalu dari hari Senin sampai dengan hari Jumat saya sholat Isya di Masjid yang terletak di belakang stasiun Universitas Indonesia, Depok. Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan Masjid itu bernasib yang kurang lebih sama dengan masjid kebanyakan di Indonesia ini, sepi, kalaupun ada yang mengisi mungkin hanya mereka yang sudah “berusia”, tapi alhamdulillah, mesjid ini ramai oleh para musafir dan pelajar Universitas Indonesia, yang memang karena lokasi masjid ini di jalan yang biasa dilalui penumpang kereta api dan mahasiswa.
Setiap hari yang selalu rutin ke masjid adalah bapak-bapak yang sudah berusia lanjut. Beliaulah yang selalu menabuh beduk dan -hampir selalu- menjadi Imam Masjid, bukan karena tidak ada yang bisa menjadi imam sholat, tapi beliau bisa dibilang takmir masjid, sehingga jika beliau melihat tidak ada yang cukup “qualified” menjadi imam -menurut pandangan beliu- beliau langsung maju menjadi imam, mungkin boleh dibilang semacam imam rowatib nya masjid.
Memang, salah satu syarat menjadi imam adalah tuan rumah, bukannya tamu. Tapi yang perlu diingat bahwa syarat dalam menjadi imam tidak hanya satu dan bersifat prioritas. Salah satu syarat-bahkan yang paling penting- adalah paham hukum sholat, fasih bacaaan Al Quran nya, kemudian baru diikuti oleh syarat-syarat lainnya, seperti bukan orang yang terang-terangan menapkakkan perbuatan dosa dan maksiat, bukan ahli maksiat, dan tentunya lebih baik tuan rumah yang menjadi imam. Syarat-syarat di atas bersifat prioritas, jadiyang lebih diutamakan adalah yang mengerti hukum, fasih bacaanya, begitu seterusnya, baru kemudian kalau ternyata syarat-syarat itu sama didapati pada dua orang, baru dipilih berdasarkan syarat selanjutnya, yaitu tuan rumah atau bukan…….jadi jika ada dua orang sama faham dalan hukum, sama fasih bacaannya, sama-sama bukan pelaku maksiat, sedang satu orang diantaranya adalah tuan rumah sedang yang lainnya adalah musafir, maka si tuan rumah inilah yang menjadi imam sholat. Jika ada dua orang salah satunya faham dalam masalah hukum dan fasih bacaannya, tapi seorang musafir, kemudian yang lainnya orang yang tidak atau kurang pemahamannya, jelek atau kurang fasih bacaanya, tapi tuan rumah, maka si musafir tadilah yang berhak menjadi imam, bukan si tuan rumah.
Masalahnya adalah, kebanyakan yang kita temui di lapangan justru sebaliknya, tuan rumah selalu menjadi syarat utama dan pertama, yang penting tuan rumah dan lebih tua usianya…jadilah imam………walaupun hancur bacaannya, jahil dalam hukum agama, dan seabrek kekurangan yang lain………Innalillahi wa inna ilaihi rojiun……………..nas alulloha salamah wal afiah……..
Agak sulit memang, saya sendiri merasakan, berada di belakang imam seperti itu. Padahal dari makmum banyak sekali yang jauh lebih berhak dan sangat berhak bahkan. Bukan apa-apa, ini masalah sholat yang begitu besar kedudukannya dalam syariat, amalan hamba yang dihisab pertama kali kelak pada hari pembalasan. Jika saya sendiri mau menegur tentu agak susah, karena berhadapan dengan orang tua, jika bacaannya salah kemudian diingatkan maka si imam ini tadi gak faham, terus saja membaca bacaan yang salah tadi……., jika toh ada yang mengajak bicara dengan baik-baik justru dianggap sok tau dan sok suci sok alim, ingin memonopoli masjid……….la ilaaha illalloh………………….Semoga Alloh menolong kita semua………………….

Posted by fauzan on January 8, 2009 at 2:42 am
saya ada 2 gambar cara menyusun shof sholat berjamaah yang sesuai Sunnah Nabi SAW
bisa di lihat di :
1. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/932493711
2. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/300979820
semoga bermanfaat, jazakallah khoir